Quarter Life Crisis: Jangan Stress ya!

Penang, Malaysia


Terima kasih untuk tahun 2018 atas banyak keajaiban yang terjadi selama tiga ratus enam puluh lima hari yang sudah berhasil dilewati. Akhir tahun ini, rasanya gue ingin bercerita akan sebuah hal yang tidak pernah disangka akan gue dengar terhadap diri ini.

Gue dapet sebuah kalimat dari seorang dokter. Kalimat yang cukup mengganggu akhir-akhir ini.
Jangan stress ya” 
Awas kalo stress bahaya,” ujar dokter setelah selesai periksa.
Gue emang lagi dalam proses rutin ke dokter. Semenjak satu tahun lalu, udah beberapa kali ganti-ganti dokter karena merasa tidak cocok. Sampai lelah rasanya harus bertemu dokter baru melulu. Baru dengan dokter ini, gue datang secara rutin karena merasa mengalami perubahan dan dokternya lumayan mengerti atas kondisi gue.
Cuma gue enggak nyangka, akan dapet kalimat itu sebenarnya.
Kenapa? karena gue udah pernah dapet kalimat itu sebelumnya dari seorang teman, tapi enggak dianggap serius. Soalnya kalimat itu muncul dari orang ketiga. Jadi, temen gue bertanya ke dokter kenalannya atas kondisi gue dan dokternya mengucapkan kalimat seperti di atas.
Selanjutnya dia cerita dan menasihati, “makanya Mer jangan stress!”
Saat itu gue hanya nanggepin bercanda aja “yaelah“.
Cuma pas kemarin dengar kalimat itu lagi, rasanya emang ada yang salah dari diri ini.
Semenjak beberapa hari yang lalu, jadi berpikir apa itu stress? Apa bener mengalami stress? Apa sakit ini ujungnya adalah stress? karena stress makanya gue sakit ini? dan banyak lagi pertanyaan di kepala.
Setelah keluar dari ruangan dokter, langsung merasa sedih dan berfikir apa yang sedang terjadi sebenarnya. Gejala lebay keluar! tapi emang kepikiran dan bertanya-tanya. 
Setelah baca-baca di dunia maya yg luas ini, emang harus ada yang dilawan. 
Diri ini lah yang selama ini harus dilawan selama setahun ini. Walaupun sebenarnya gue masih belum tau juga stress gara-gara pa haha. Sulit sebenarnya mengetahui diri sendiri… tapi katanya stress bisa menyerang mental dan menyerah kondisi tubuh. Rasanya gue sedang diserang dalam berbagai sudut selama berbulan-bulan.
Serangan mental yang dialami adalah saat gue sering banget merasa deg-degan, gatau kenapa tapi tiba-tiba merasa bersalah dan sedih banget sampai rasanya ingin nangis sejadi-jadinya. Tapi selalu susah mengeluarkan air mata. Selama satu tahun kebelakang juga gue kehilangan motivasi akan hidup dan mati. Males ketemu orang, motivasi membaca dan motivasi menulis, intinya tidak bergerak seperti batu. Ditambah serangan tubuh, sakit yang belum sembuh-sembuh selama setahun ini. Kekebalan tubuh juga mengalami kemunduran drastis, karena rasanya hampir setiap bulan gue sakit, tapi karena udah enggak pernah olahraga aja sih kalo ini HHH. Berat badan juga turun dari biasanya, sampai banyak orang ngira kalo gue diet. Padahal gue enggak menganut ajaran untuk diet karena merusak hobi makan enak.
Mungkin gue masih kurang jujur terhadap diri sendiri yang stress akan quarter life crisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *